Sabtu, 22 Oktober 2011

Test Kehamilan

Diposting oleh Ѽ. PooR pRinZa aPpLe .Ѽ di 20.42.00 0 komentar

LAPORAN PRAKTIKUM
STRUKTUR PERKEMBANGAN HEWAN II
TEST KEHAMILAN

 



Oleh:
Nama                     : Dian Octarina
NIM                      : 08081004023
Asisten                  : Lintang Nugroho
Kelompok             : VIII (Delapan)


LABORATORIUM ZOOLOGI
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2010




ABSTRAK
Praktikum yang berjudul, “Test Kehamilan” bertujuan untuk mendeteksi kehamilan secara dini dan tanpa membutuhkan pengamatan klinis dan fisiologis. Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa, 3 November 2009, pukul 08.30-10.30 WIB. Bertempat di Laboratorium Zoologi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sriwijaya, Inderalaya. Alat yang digunakan adalah alat tulis, kertas catatan dan mikroskop. Dan bahan yang digunakan adalah berbagai macam prerparat awetan jaringan epitel, yaitu preparat Gaster Cavia cobaya, kelenjar adrenalin Mus musculus, penampang melintang calun usus besar, dan Uterus Mencit. Adapun hasil yang didapat yaitu gambar berbagai macam bentuk dan letak sel penyusun jaringan epitel. Kesimpulan yang didapat pada praktikum ini yaitu jaringan epitel tersusun dari sel-sel yang sangat rapat.




BAB I
PENDAHULUAN
1.1.    Latar Belakang
Pada hewan-hewan multiseluler, kehidupan biasanya dimulai dengan penyatuan dua heterogamete, yaitu sperma dan sel telur. Sel tunggal yang dihasilkan dari penyatuan itu adalah sel terfertilisasi, atau zigot. Fertilisasi merupakan suatu proses kompleks yang melibatkan penetrasi             lapisan-lapisan pelindung sel telur oleh sperma yang motil, inkorporasi nukleus sperma ke dalam sitoplasma sel telur, dan pada akhirnya penyatuan dua pronuklei (masing-masing nukleus gamet disebut pronkleus sebelum bergabung) untuk menghasilkan nukleus tunggal yang diploid (Fried 2006).
Pada mamalia berplasenta, kehamilan (pregnancy) atau gestasi, adalah kondisi mengandung satu atau lebih embrio, yaitu individu yang baru berkembang dalam uterus. Kehamilan diawali oleh konsepsi, yaitu proses fertilisasi atau pembuahan telur oleh sebuah sel sperma, dan berlangsung terus sampai kelahiran sang anak. Kehamilan pada mamalia berlangsung rata-rata 266 hari (38 minggu) dari konsepsi, atau 40 minggu dari permulaan siklus menstruasi terakhir. Lama kehamilan pada spesies lain berkorelasi dengan ukuran tubuh dan seberapa jauh perkembangan anak pada saat kelahiran. Banyak hewan pengerat (mencit dan tikus) mempunyai periode kehamilan, sekitar 21 hari, sementara anjing kurang lebih 60 hari. Pada sapi, kehamilan rata-rata berlangsung 270 hari (hampir sama seperti pada manusia). Pada jerapah, kehamilan berlangsung sekitar 420 hari, dan pada gajah, kehamilan berlangsung lebih dari 600 hari (Campbell 2004).
Kehamilan manusia terjadi selama 40 minggu antara waktu menstruasi terakhir dan kelahiran (38 minggu dari pembuahan). Istilah medis untuk wanita hamil adalah gravida, sedangkan manusia di dalamnya disebut embrio (minggu-minggu awal) dan kemudian janin (sampai kelahiran). Dalam banyak masyarakat definisi medis dan legal kehamilan manusia dibagi menjadi tiga periode triwulan, sebagai cara memudahkan tahap berbeda dari perkembangan janin. Triwulan pertama membawa risiko tertinggi keguguran (kematian alami embrio atau janin), sedangkan pada masa triwulan ke-2 perkembangan janin dapat dimonitor dan didiagnosa. Triwulan ke-3 menandakan awal 'viabilitas', yang berarti janin dapat tetap hidup bila terjadi kelahiran awal alami atau kelahiran dipaksakan. Karena kemungkinan viabilitas janin yang telah berkembang, definisi budaya dan legal dari hidup seringkali menganggap janin dalam triwulan ketiga adalah sebuah pribadi. Kehamilan manusia terjadi    selama 40 minggu antara waktu menstruasi terakhir dan kelahiran (38 minggu dari pembuahan). Istilah medis untuk wanita hamil adalah gravida, sedangkan manusia di dalamnya disebut embrio (minggu-minggu awal) dan kemudian janin (sampai kelahiran) (Anonim 2010).
Trimester pertama merupakan periode utama organogenesis, yaitu perkembangan organ tubuh. Jantung mulai berdenyut pada minggu keempat dan dapat dideteksi dengan stetoskop pada akhir trimester pertama. Pada akhir minggu kedelapan, semua struktur utama dewasa sudah ada dalam bentuk rudimenter. Pada saat itu, embrio disebut fetus atau janin. Meskipun sudah berdiferensiasi dengan baik, fetus hanya 5 cm panjangnya pada akhir trimester pertama. Karena laju organogenesis yang cepat, embrio paling sensitive selama trimester pertama terhadap ancaman seperti radiasi dan obat-obatan yang dapat menyebabkan cacar lahir   (Campbell 2004).

1.2.   Tujuan Praktikum
Praktikum kali ini bertujuan untuk mendeteksi kehamilan secara dini dan tanpa membutuhkan pengamatan klinis dan fisiologis.




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Keadaan hormonal pada kehamilan, kadar Human Chorionik Gonadotropin (HCG) dalam plasma mulai meningkat dengan segera pada saat implantasi ovum di dinding uterus. Hormon tersebut mencapai puncaknya pada umur sekitar 8 minggu kehamilan, kemudian mulai menurun ke kadar yang tetap hingga terjadi persalinan, HCG memelihara fungsi korpus luteum selama 8-10 minggu. Human Chorionik Gonadotropin (HCG) mempunyai struktur yang hampir sama dengan hormon pertumbuhan dan laju sekresinya seiring dengan muncul dan berkembangnya placenta dan dapat digunakan untuk mengukur fungsi placenta. Pertambahan berat dan komponennya, rata-rata pertambahan berat badan ibu selama kehamilan adalah 12,5 kg. Pertambahan tersebut mewakili 2 komponen besar, yaitu banding 1) produk kehamilan : fetus, cairan amnion, dan placenta, 2) pertambahan jaringan maternal : ekspansi dari darah dan cairan ekstraselluler, pembesaran uterus dan glandula mammae serta cadangan maternal (jaringan adiposa) (Suryani 2002).
Kehamilan manusia dapat dibagi ke dalam tiga trimester yang masing-masing sekitar 3 bulan lamanya. Trimester pertama adalah waktu terjadinya perubahan yang paling radikal baik untuk ibu maupun untuk bayinya. Fertilisasi terjadi dalam oviduk. Sekitar 24 jam kemudian, zigot yang dihasilkan mulai membelah, suatu proses yang disebut permbelahan (cleavage). Pembelahan itu terus berlangsung, dan embrio membentuk kumpulan sel berbentuk bola ketika mencapai uterus sekitar 3 sampai 4 hari setelah pembuahan. Sekitar 1 seminggu setelah pembuahan, proses pembuahan itu menghasilkan tahapan embrionik yang disebut dengan blastosista (blastocyst), yaitu bola sel yang mengandung rongga pipih. Dalam proses yang berlangsung kurang lebih 5 hari lagi, blastosista tersebut menempel dan terimplantasi ke dalam endometrium. Diferensiasi struktur tubuh sekarang mulai benar-benar berlangsung. Selama implantasi, blastosista akan menempel ke endometrium, yang memberikan respons dengan tumbuh menyelimuti blastosista tersebut. Embrio mendapatkan nutriennya secara langsung dari endometrium selama 2 sampai 4 minggu pertama perkembangan. Sementara itu, jaringan yang tumbuh dari embrio yang sedang berkembang itu bercampur dengan endometrium dan membentuk plasenta. Organ berbentuk cakram ini, yang mengandung pembuluh darah maternal dan pembuluh darah embrio, tumbuh hingga mencapai ukuran piring makan dan berbobot kurang dari 1 kg. Difusi zat-zat antara sirkulasi maternal dan embrio menyediakan nutrien, mempertukarkan gas-gas respirasi, dan pembuangan limbah metabolism untuk embrio tersebut. Darah dari embrio mengalir ke placenta melalui arteri tali pusat dan kembali melalui vena pusar, dan melewati hati embrio itu                                  (Campbell 2004).
Pembelahan-pembelahan awal berlangsung dan menghasilkan blastomer-blastomer berukuran serupa. Blastomer-blastomer tersebut dapat berpisah sehingga tersebut lebih dari satu embrio. Sekitar 5 hari setelah fertilisasi, terbentuk sebuah tahapan blástula yang dikenal sebagai blastosista. Blastosista terdiri atas sebuah lingkaran sel luar yang disebut trofoblas dan massa bulat di sebelah dalam sel yang mengantung ke bawah pada salah satu ujung trofoblas. Massa sel di sebelah dalam akan menghasilkan embrio, sedangkan tropoblas akan menghasilkan korion dan komponen fetal placenta seperti spons. Pertukaran gas dan cairan antara ibu dan anak terjadi dalam placenta. Pada sekitar hari ketujuh, tropoblas tenggelam ke dalam uterus (endometrium), dan terbentuk serangkaian penjuluran dari embrio ke uterus. Proses tersebut dinamai implantasi. Segera setelah implantasi, terbentuk membran ekstraembrionik (Fried 2006).
Trimester pertama juga merupakan waktu di mana terjadi perubahan cepat pada ibu. Embrio mensekrasikan hormon yang memberi sinyal akan kehadiran dan mengontrol sistem reproduksi ibunya. Satu hormon embrio, yaitu human chorionic gonadothropin (HCG), bertindak seperti LH pituitari untuk mempertahankan sekresi progesteron dan estrogen oleh luteum selama trimester pertama. Dengan ketidakberatan hormon tersebut, penurunan kadar LH maternal akibat inhibisi (penghambatan) pituitari oleh progesteron akan mengakibatkan menstruasi dan aborsi embrio secara spontan. Kadar HCG dalam darah ibu sedemikian tingginya sehingga sebagian di antaranya disekresikan dalam urin, dan dapat dideteksi dalam uji kehamilan. Kadar progesteron yang tinggi mengawali perubahan sistem reproduksi pada perempuan yang hamil, termasuk peningkatan mukus dalam serviks yang membentuk sumbat pelindung, pertumbuhan placenta bagian maternal milik ibu, pembesaran uterus, dan (melalui umpan balik negatif pada hipotalamus dan pituitari) penghentian ovulasi dan siklus menstruasi. Payudara juga membesar secara cepat dan seringkali menjadi lembek (Campbell 2004).
Kelahiran atau partus atau pasturisi, terjadi melalui serangkaian kontraksi uterus yang kuat dan berirama, yang umum dikenal sebagai labor. Tahapan pertama adalah pembukaan dan pemipihan serviks, yang berakhir dengan dilatasi sempurna. Tahapan kedua adalah ekspulsi atau pengeluaran bayi. Kontraksi yang kuat terus memaksa fetus turun dan keluar dari uterus dan vagina. Tali pusar dipotong dan dijepit setelah bayi keluar. Tahapan akhir kelahiran adalah keluarnya placenta yang biasanya mengikuti keluarnya bayi. Laktasi adalah suatu aspek perawatan dan pemeliharaan pascalahir bagi mamalia (Campbell 2004).
Kebutuhan nutrisi pada saat laktasi jauh lebih besar dibandingkan pada saat kehamilan. Pada 4-6 bulan pertama partus, berat seorang bayi menjadi dua kali lipat dibandingkan pada saat umur sembilan bulan di dalam kandungan. Susu yang dihasilkan selama empat bulan mengandung energi yang ekuivalen dengan energi total pada waktu kehamilan. Tetapi, meskipun demikian sejumlah energi dan banyak dari nutrien yang dimakan selama kehamilan dipergunakan untuk mendukung produksi dari susu (Suryani 2002).
Haid yang keluar ketika hamil bisa merupakan pertanda adanya gangguan, tapi bisa juga tidak. Sebagai tanda gangguan, bisa sebagai tanda-tanda keguguran, placenta lepas atau hamil anggur. Sebaliknya, bercak darah pada trimester pertama kehamilan bisa pula untuk menandakan embrio sedang membenamkan diri ke dalam jaringan selaput lendir dinding rahim. Hal ini terjadi karena kadar hormon progesteron kurang, sehingga ada bagian dinding rahim yang luruh dan tampak sebagai darah haid. Timbulnya bercak darah ini dapat pula disebabkan pecahnya beberapa pembuluh darah di dinding rahim ketika embrio membenamkan diri. Sebab keluarnya darah haid, bisa pula karena adanya kelainan bentuk rahim. Akibat adanya ari-ari gagal menempel pada dinding rahim. Tak jarang pendarahan timbul akibat pecahnya polip di leher rahim, adanya benturan leher rahim akibat senggama atau infeksi pada selapit lendir. Kehamilan kembar dapat juga menimbulkan pendarahan ringan. Hal ini terjadi ketika kedua embrio berusaha membenamkan diri ke dalam dinding rahim. Embrio yang tidak mampu bertahan akan keluar dalam bentuk pendarahan yang cukup banyak (Kasdie 2005).




BAB III
METODE PENELITIAN
3.1.           Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa, 23 Maret 2010, pukul 08.00-10.00 WIB. Bertempat di Laboratorium Zoologi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sriwijaya, Inderalaya.
3.2.           Alat dan Bahan
Alat yang digunakan adalah kaca objek, kaca penutup, mikroskop, pipet tetes, dan syringe              5 ml.. Dan bahan yang digunakan adalah Rana sp jantan, urine wanita di duga hamil dan urine wanita yang tidak hamil.
3.3.           Cara Kerja
Terlebih dahulu diperiksa ke tiga empat ekor katak jantan tersebut, apakah didalam cairan kloakanya ditemukan spermatozoa atau tidak. Kemudian katak yang urinnya mengandung sperma tidak dipakai. Katak yang tidak mengandung sperma dibagi menjadi dua kelompok. Kemudian disuntikkan 2-3 ml urin wanita tadi pada kantung limfa lateral katak. Dibiarkan kira-kira 30 menit. Diambil urin katak dengan bantuan pipet melalui kloaka. Diteteskan pada kaca objek dan ditutup dengan kaca penutup. Kemudian diamati di bawah mikroskop. Test positif apabila dalam urin katak tersebut terdapat sperma.




BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.    Hasil dan Gambar
Dari praktikum yang telah dilaksanakan, didapat hasil sebagai berikut:
Tabel Hasil Test Kehamilan
No.
Kelompok
Katak
Keterangan Morfologi Sperma
Kontrol
Perlakuan
1.
I
2.
II
3.
III
4.
IV
5.
V
+









6.
VI
7.
VII
8.
VIII
+











Rana sp

Klasifikasi
Kingdom             : Animalia
Phylum                : Chordata
Classis                 : Amphibia
Ordo                   : Anura
Family                 : Ranidae
Genus                  : Rana
Spesies                : Rana sp


4.2.      Pembahasan
Pada praktikum Test Kehamilan yang telah dilakukan, terdapat hasil yang positif dan hasil negatif. Dikatakan negati karena pada kelompok kontrol dan perlakuan dalam urine Rana sp tersebut tidak terdapat (tidak ditemukan) spermatozoa. Menurut (Sukra 2000) bahwa hasil negatif dalam pengujian, kemungkinan dikarenakan faktor-faktor kesalahan dalam penyuntikan pada kloaka Rana sp, usia kehamilan yang bisa kurang dari 35 hari atau bisa lebih dari 80 hari. Urine wanita yang di duga hamil sudah rusak karena terlalu lama antara jarak pengambilan dengan pengujian, urine wanita yang di duga hamil itu memang tidak hamil dan yang terakhir bisa juga karena katak yang disuntikkan dengan urine wanita yang diduga hamil itu kemungkinan ada spermanya. Hal ini dikarenakan tidak adanya HCG di dalam air kemih, namun sebaliknya bila HCG yang terkandung banyak di dalam urine berarti dinyatakan hamil. Penyuntikan itu dapat dianggap sebagai rangsangan yang akan mengikat dan menginduksikan terjadinya ovulasi pada betina. Untuk mengetahui ada atau tidaknya spermatozoa, Rana sp diuji dahulu menggunakan larutan garam fisiologis yang dimaksudnkan untuk menyeimbangkan tekanan osmotik pada Rana sp. jantan itu sendiri serta lingkungan luarnya. Di mana dalam praktikum ini digunakan garam fisiologis 0,8 persen.
Pada saat wanita mengalami kehamilan, keadaan hormonal di dalam tubuh akan berubah. Hormon yang memiliki pengaruh penting pada saat kehamilan, yaitu Human Choirionik Gonadotropin (HCG) yang akan meningkat dengan segera menjalankan fungsinya dalam minggu-minggu kehamilan seorang wanita. Hal ini sesuai dengan pendapat Suryani (2002) bahwa hormon yang reproduktif yang terkandung dalam plasma wanita hamil adalah (1) HCG, yaitu hormon yang berfungsi untuk mempertahankan korpus luteum selama 8-10 minggu. HCG dapat meningkat secara tepat pada implentasi ovum, HCG juga dapat mencapai kadar puncak pada 8 minggu kehamilan dan menurun pada tingkatan yang stabil hingga masa kelahiran, (2) Placental lactogen, yaitu hormone yang dapat menstimulasi lipolisis, aksi insulin antagonis dan penting dalam menjaga aluran sustrat menuju fetus. Placental lactogen juga dapat digunakan sebagai pengukur fungsi dari plasenta, yang akan meningkat seiring dengan usia kehamilan. Pada kadar puncaknnya, kecepatan sekresi pada placental lactogen dapat mencapai 1-2 gram/hari. (3) Progesteron, berfungsi untuk menstimulasi respirasi maternal, merelaksasi otot polos, sebagai immunopressan pada placenta, juga dapat memacu perkembangan lobuler payudara dan menginhibisi sekresi susu selama kehamilan, hormon progesteron kadarnya akan meningkat terus sampai usia kehamilan. (4) Estrogen, dapat digunakan untuk menstimulasi pertumbuhan uterus, meningkatkan aliran darah menuju uterus, juga dapat digunakan untuk mengukur viabilitas. Kadar hormon estrogen dapat meningkatkan beberapa kali lipat seiring dengan pertumbuhan kehamilan. (5) Prolaktin berfungsi untuk membantu perkembangan peyudara, menginisiasi dan mempertahankan laktasi dan kadarnya dapat meningkat sesuai dengan usia kehamilan.
Selain Human Choironik Gonadotropin (HCG), proses kehamilan pada wanita juga dipengaruhi oleh beberapa hormon lain, diantaranya yaitu Releasing Factor (RF) dan estrogen. Menurut Campbell (2004) bahwa tes kehamilan pada mammalia akan positif apabila terjadi peningkatan yang banyak dari gonadotropin korionik hormon di air seni, yang mana inilah akan menjadi suatu dasar dalam melakukan tes kehamilan. Macam-macam hormon yang mempengaruhi kehamilan pada wanita yaitu Releasing Factor (RF), yang dikeluarkan dari hipotalamus ke hipofisis yang merangsang pengeluaran Folicle Stimulating Hormone (FSH) dan Luteinizing Hormone (LH), keduanya dikeluarkan dari hipófisis anterior. Selain kedua hormon tersebut, estrogen mempunyai pengaruh terhadap endometrium yang telah berprolifikasi dan menyebabkan kelenjar berlekuk-lekuk dan bersekresi.
Pada sperma terdapat spermatozoa yang tidak sedikit, produk sel-sel sperma dewasa adalah proses yang terus menerus terjadi pada jantan dewasa. Spermatozoa terdiri dari struktus-struktus yang menyusunnya dan memiliki fungsi masing-masing. Hal ini sesuai dengan pendapat Campbell (2004) bahwa struktur sperma pada sebagian spesies terdiri dari kepala yang mengandung nukleus haploid yang dilindungi oleh badan khusus, yaitu akrosom (acrosome), yang mengandung enzim yang membantu sperma menembus sel telur. Di belakang kepala sel sperma, mengandung sejumlah besar mitokondria (atau sebuah mitokondria yang berupa sebuah flagela. Bentuk sperma mamalia bervariasi dari spesies satu ke spesies lainnya, dengan kepala berbentuk koma tipis, berbentuk oval (seperti pada sperma manusia), atau berbentuk hampir bulat. Spermatogenesis terjadi dalam tubulus seminiferus testis. 


BAB V
KESIMPULAN
Dari praktikum yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.      Hormon yang terkandung dalam urin wanita hamil adalah HCG, estrogen, dan progesteron.
2.      Uji yang dilakukan dalam percobaan adalah uji galli mainini dengan menggunakan Rana sp jantan sebagai pengontrol dan penguji
3.      Spermatozoa yang ditemukan dalam pengujian menunjukkan bahwa hasil test kehamilan positif
4.      Garam positif yang digunakan berfungsi untuk menyeimbanngkan tekanan osmotic pada Rana sp. jantan itu sendiri serta lingkungan luarnya.
5.      Hormon-hormon yang mempengaruhi kehamilan, yaitu Releasing Factor (RF), Stimulating Hormone (FSH), dan Luteinizing Hormone (LH).

Preparat tetesan bergantung (Hanging Drop)

Diposting oleh Ѽ. PooR pRinZa aPpLe .Ѽ di 08.22.00 0 komentar

LAPORAN PRAKTIKUM
MIKROBIOLOGI I
PREPARAT TETESAN BERGANTUNG (HANGING DROP)

 




Oleh:


Oleh:
Nama                     : Dian Octarina
NIM                      : 08081004023
Asisten                  : Farhan
Kelompok             : VIII (Delapan)


LABORATORIUM MIKRO
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2009



LEMBAR HASIL KERJA
PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI
Judul Praktikum    : Preparat tetesan bergantung (Hanging Drop)
Nama / NIM            : Dian Octarina/08081004023         Kelompok    : VIII
Asisten                     : Farhan                                            Tanggal       : 28 Oktober 2009
I.       TUJUAN PRAKTIKUM
Tujuan Praktikum ini adalah :
Untuk melihat pergerakan mikroorganisme.

II.    LANDASAN TEORI
Mikroorganisme (bakteri, Cyanobacteria, jamur, protozoa, dan ganggang) dan binatang-binatang kecil (multiseluler parasit dan invertebrata mikroskopis) menampilkan berbagai bentuk dan ukuran. Sistem Whittaker, yang terdiri dari lima kerajaan, menekan perbedaan dalam cirri-ciri seluler dan gizi, sedangkan sistem Woese, yang terdiri dari tiga domain, menekankan perbedaan dalam ciri-ciri biokimia. Sistem tersebut tidak mencakup virus, karena sifat, karakter yang unik dan metode replikasi (Alexander 2004).
Bakteri hidup sukar untuk dilihat dengan mikroskop cahaya biasa karena bakteri itu tampak tidak berwarna, jika diamati secara sendiri-sendiri, walaupun biakannya secara keseluruhan mungkin berwarna. Namun, sering diperlukan dan lebih disukai untuk melihat bakteri hidup dibawah mikroskop, khususnya untuk menentukan apakah bakteri-bakteri tersebut dapat bergerak (Volk 1993).
Suatu cara pengamatan bakteri hidup yang memuaskan ialah dalam sediaan tetesan bergantung. Setetes biakan cair (atau organisme disuspensi dalam air) diletakkan ditengah sebuah kaca penutup. Disini dipakai gelas preparat khusus dengan cekungan ditengahnya. Cekungan dilingkari oleh lapisan petrotalum kemudian dibalikkan diatas kaca penutup, sehingga tetesan biakan berada ditengah cekungan. Seluruh preparat dengan kaca penutup kemudian secara cepat dibalikkan lagi sehingga tetesan biakan benar-benar menggantung pada kaca penutup di dalam cekungan. Gelas preparat diletakkan pada meja mikroskop dan organisme diamati dengan lensa objektif tinggi kering atau imersi minyak (Volk 1993). 
Pada umumnya tolak ukur pertumbuhan (multiplikasi) bakteri dan lain-lain mikroorganisme uniseluler adalah hasil penentuan penambahan jumlah dalam hubungan dengan waktu. Misalnya ke dalam medium yang berisi 50 ml bulyon steril dengan suhu 35ºC ditanam setetes cairan yang kira-kira 10 sel bakteri yang biasanya ditemukan dalam usus, misalnya Esherichia coli. Bakteri colon ini diambil dari biakan persediaan yang sudah lama disimpan di lemari es dan tidak aktif. Bulyon yang telah ditanam itu dieramkan pada suhu 35ºC. masalahnya sekarang ialah secara berurutan menghitung jumlah bakteri yang ditemukan selang waktu tertentu dengan cara mengambil sejumlah biakan bulyon tersebut misalnya 1 ml (Irianto 2007).
Bentuk dan struktur bakteri dapat diamati dengan dua cara: (a). Dengan mengamati pergerakan sel-sel hidup, tanpa pewarnaan, (b). Mengamati sel-sel yang mati dengan pewarnaan. Bakteri yang hidup hampir tidak berwarna dan tidak kontras dengan air, di mana sel-sel bakteri tersebut disuspensikan. Oleh karena itu pengamatan tanpa pewarnaan menjadi lebih sukar dan tidak dapat digunakan untuk melihat bagian-bagian sel dengan teliti. Pewarnaan akan menyebabkan bakteri-bakteri tersebut berwarna dengan sekelilingnya, sehingga akan terlihat lebih jelas. Pada umumnya pergerakan mikroba dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu gerak pasif dan gerak aktif. Gerak pasif disebabkan oleh adanya gerakan pertikel-pertikel disekitarnya, misalnya gerakan dari molekul-molekul (gerakan Brown) yang menyebar kesemua arah. Sedangkan gerakan aktif disebabkan oleh pergerakan mikroba itu sendiri. Berdasarkan cara pergerakannya, mikroba dibagi atas mikroba yang bersifat motil dan bersifat non-motil. Mikroba motil ialah mikroba yang dapat bergerak karena mempunyai flagella, sedangkan bakteri non-motil tidak dapat bergerak (Sutedjo 1991).
Preparat basah atau preparat tetes bergantung memungkinkan pemerikasaan organisme hidup yang tersuspensi dalam zat alir. Preparat baasah diperoleh dengan menaruh setetes zat alir yang mengandung organisme pada kaca dan menutupnya dengan kaca sangat tipis yang dinamakan kaca tutup. Untuk mengurangi laju penguapan dan meniadakan aliran udara, tetesan itu biasanya dilingkari dengan “jeli petroleum” atau bahan serupa sehingga antara kaca objek dan kaca terkatup rapat. Tersedia kaca objek khusus dengan daerah cekung ke dalam untuk preparat tetes bergantung. Preparat basah atau preparat tetes bergantung berutama berguna apabila morfologi mikroorganisme yang ditengah diperiksa dapat rusak karena perlakuan dengan panas atau bahan kimia ataupun bila organisme itu sukar diwarnai. Cara itu pun merupakan metode pilihan untuk mengamati proses-proses kehidupan tertentu, misalnya seperti motilitas dan reproduksi.  Apabila preparat basah diperiksa dengan mikroskop medan terang, amatlah penting untuk menyesuaikan cahaya dengan benar. Preparat basah atau preparat tetes gantung memungkinkan pemeriksaan organisme hidup yang tersuspensi di dalam zat alir (Pelczar 1986).
Bentuk dan struktur bakteri dapat diamati dengan dua cara: (a). Dengan mengamati pergerakan sel-sel hidup, tanpa pewarnaan, (b). Mengamati sel-sel yang mati dengan pewarnaan. Bakteri yang hidup hampir tidak berwarna dan tidak kontras dengan air, di mana sel-sel bakteri tersebut disuspensikan. Oleh karena itu pengamatan tanpa pewarnaan menjadi lebih sukar dan tidak dapat digunakan untuk melihat bagian-bagian sel dengan teliti. Pewarnaan akan menyebabkan bakteri-bakteri tersebut berwarna dengan sekelilingnya, sehingga akan terlihat lebih jelas. Pada umumnya pergerakan mikroba dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu gerak pasif dan gerak aktif. Gerak pasif disebabkan oleh adanya gerakan pertikel-pertikel disekitarnya, misalnya gerakan dari molekul-molekul (gerakan Brown) yang menyebar kesemua arah. Sedangkan gerakan aktif disebabkan oleh pergerakan mikroba itu sendiri. Berdasarkan cara pergerakannya, mikroba dibagi atas mikroba yang bersifat motil dan bersifat non-motil. Mikroba motil ialah mikroba yang dapat bergerak karena mempunyai flagella, sedangkan bakteri non-motil tidak dapat bergerak (Sutedjo 1991).
Menurut Brown gerakan bakteri menggunakan preparat tetesan bergantung biasanya lurus dan tak tentu arahnya. Metode ini enggunakan tabung-tabung dengan suspense dari berbagai derajat kekeruhan. Tiap-tiap derajat tersebut dengan tingkat kekeruhan equivalen dengan jumlah tertentu permilimeter. Suspense bakteri yang ingin diperiksa jumlanya dibandingkan dengan kekeruhan dalam tabung, yaitu dengan ukuran yang sama (Irianto 2006).
Menyesuaikan cahaya dengan benar pada mikroskop medan terang dalam mengamati preparat tetes bergantung, intensitas cahaya dapat dikurangi dengan menggunakan filter khusus. Mikroskopi medan gelap dan mikroskopi kontras fase memberikan keuntungan khusus untuk pemeriksaan sel-sel mikrobe yang tidak diwarnai yang tersuspensi dalam cairan. Kedua macam mikroskopi menghasilkan kontras yang lebih baik antara mikroorganisme (atau sebagian daripadanya) dan bahan latar belakangnya. Teknik ini digunakan di laboratorium diagnostic klinis, khususnya untuk pemeriksaan specimen yang diduga mengandung protozoa didalamnya. Sel protozoa umumnya lebih besar dari kebanyakan bakteri dan mempunyai stuktur internal yang lebih rumit. Struktur-struktur ini, atau bagian intraseluler, penting untuk mencirikan spesies dan dapat diamati dengan menggunakan mikroskopi medan gelap atau kontras fase (Pelczar 1986).
Dalam sediaan preparat tetes bergantung, hanya dapat mengalami pengamatan bakteri selama fluida masih bergantung pada kaca penutup, jika fluida telah menetes pada kaca benda, maka pengamatan akan sulit dilakukan. Melalui preparat tersebut dapat dilihat mikroba yang bergerak. Pengelompokan bakteri secara natural dan reaksi kimia terhadap bahan kimia (Burdon 1994).
Tolak ukur pertumbuhan (multiplikasi) bakteri dan lain-lain mikroorganisme uniseluler adalah hasil penentuan penambahan jumlah dalam hubungan dengan waktu. Misalnya ke dalam medium yang berisi 50 ml bulyon steril dengan suhu 35ºC ditanam setetes cairan yang kira-kira 10 sel bakteri yang biasanya ditemukan dalam usus, misalnya Esherichia coli. Bakteri colon ini diambil dari biakan persediaan yang sudah lama disimpan di lemari es dan tidak aktif. Bulyon yang telah ditanam itu dieramkan pada suhu 35ºC. masalahnya sekarang ialah secara berurutan menghitung jumlah bakteri yang ditemukan selang waktu tertentu dengan cara mengambil sejumlah biakan bulyon tersebut misalnya 1 ml (Irianto 2007).


III.       HASIL PENGAMATAN
1.      Mikroskop

















Keterangan :
1.      Lensa okuler                             6.  Cermin
2.      Revolver                                   7.  Alas mikroskop
3.      Lensa objektif                           8.  Lengan mikroskop
4.      Meja preparat                            9.  Kondensor
5.      Diafragma

2.      Preparat Tetes Bergantung
Air Got (perbesaran 4 x 10)














IV.       PEMBAHASAN
Dalam studi organisme mikroskopis, mikroskop sangat dibutuhkan. Mikroskop dapat memperjelas mata dalam mengamati organisme berukuran sangat kecil yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Hal ini sesuai dengan pendapat Campbell (2002) bahwa dua nilai penting sebuah mikroskop ialah daya pembesaran dan penguraiannya, atau resolusi. Pembesaran mencerminkan berapa kali lebih besar objeknya terlihat dibandingkan dengan ukuran sebenarnya. Daya urai merupakan ukuran kejelasan citra, yaitu jarak minimum dua titik yang dapat dipisahkan dan masih dapat dibedakan sbegai dua titik terpisah.
Berdasarkan sumber penerangan sinarnya, mikroskop dibedakan dalam beberapa jenis dengan kemampuan perbesaran yang berbeda pula. Hal ini sesuai dengan pendapat Alexandes (2004) bahwa mikroskop yang biasa digunakan di laboratorium adalah mikroskop cahaya, dan ada pula mikroskop yang mampu menggantikan cahaya tampak dan memfokuskan berkas electron melalui specimen, yakni mikroskop electron. Mikroskop cahaya memperbesar objek hingga 1000X dan dapat dipergunakan untuk mempelajari ukuran sel, bentuk dan pengaturan. Terdapat dua jenis mikroskop electron, yaitu mikroskop elektron transmisi (TEM) dan mikroskop elektron payar (SEM). Mikroskop elektron transmisi memungkinkan memagnifikasi hingga 100.000X, sehingga memungkinkan dapat mempelajari detail internal sel, dan mikroskop elektron payar (SEM) menggunakan ketelitian hingga 20.000X yang mampu menampilkan sel dalam tiga dimensi.
Komponen mikroskop dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian optik dan bagian mekanik. Hal ini sesuai dengan pendapat Sutedjo (1991) bahwa bagian-bagian mekanik pada mikroskop terdiri dari statif, tubus, revolver, maja benda, sekrup pengatur tubus (halus dan kasar), sekrup pengatur  kondensor dan sekrup-sekrup pengatur meja benda. Dan bagian optic mikroskop mencangkup lensa okuler, lensa objektif, kondensor dan cermin pengatur cahaya.
Pengamatan terhadap air selokan pada preparat tetes bergantung di bawah mikroskop, terlihat hasil pergerakan euglena. Protozoa ini berbentuk elips/lonjong, berwarna hijau dan memiliki pergerakan yang maju. Hal ini sesuai dengan pendapat Irianto (2002) bahwa euglena merupakan protozoa yang memiliki flagella dan memiliki klorofil dan kloroplas yang menyebabkan warna hijau pada tumbuhan tingkat tinggi. Para ahli tumbuhan memasukkannya dalam dunia tumbuhan. Sedangkan para ahli hewan memasukkannya ke dalam dunia hewan karena bergerak secara aktif dan memiliki bintik mata.
Pada praktikum preparat tetasan bergantung ini, salah satu bahan yang digunakan ialah vaselin. Vaselin digunakan saat meletakkan/menutupkan kaca penutup pada kaca objek. Vaselin berfungsi untuk mempertahankan air yang mengandung mikrobia yang akan diamati yang telah diletakkan pada kaca objek dan ditutup dengan kaca penutup serta merekatkan kaca penutup pada kaca objek agar air di dalam dapat dipertahankan dan tidak menyebar kemana-mana. Yang mempermudah terhadap pengamatan gerakan mikrobia air tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Dwidjosepoetro (1998) bahwa gerakan pada mikroba dibagi menjadi dua macam, yaitu gerak pasif dan gerak aktif. Gerak pasif disebabkan oleh adanya gerakan partikel-partikel disekitarnya, misalnya gerakan dari molekul-molekul air (gerakan Brown) yang menyebar ke semua arah. Sedangkan gerakan aktif disebabkan oleh gerakan mikroba itu sendiri.
Dengan menggunakan preparat tetes bergantung, pergerakan mikroba dalam objek air yang diamati di bawah mikroskop akan tampak jelas pergerakannya. Hal ini sesuai dengan pendapat Schlejel (1994) bahwa  preparat bawah atau preparat tetes bergantung berguna terutama apabila dalam pengamatan morfologi mikroorganisme yang tengah diperiksa dapat rusak karena perlakuan dengan panas atau bahan kimia ataupun bila organisme itu sukar diwarnai. Berdasarkan geaknya, mikroba dibagi atas mikroba yang bersifat motil dan amotil. Pada praktikum ini diperoleh gerak Brown yang termasuk mikroba motil yaitu yang dapat bergerak.

V.       KESIMPULAN
Dari praktikum yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.      Mikroskop terdiri dari dua komponen, yiatu bagian mekanik dan bagian ortik.
2.      Bentuk dan struktur bakteri dapat diamati tanpa pewarnaan, yakni bagian mengamati pergerakan sel-sel hidup.
3.      Preparat tetes bergantung digunakan dalam mengamati gerak bakteri dan gerak Brown dengan menghindari penguapan.
4.      Bakteri dapat bergerak maju dan mundur karena benturan dari moekul air menurut Brown.
5.      Pada preparat tetes bergantung air got didapatkan gerak Brown yang berupa      gerakan-gerakan dari mikrobia yang diamati.
6.      Di dalam air got terdapat protozoa, yaitu euglena yang berwarna hijau dan paramecium yang putih transparan.

pRinZa Facebook

 

PooR pRinZa aPpLe Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei | web hosting