Jumat, 21 Oktober 2011

"Pengaruh Unsur-unsur Ekologi Terhadap Pertumbuhan Bakteri"

Diposting oleh Ѽ. PooR pRinZa aPpLe .Ѽ di 09.28.00 0 komentar

LEMBAR HASIL KERJA
PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI
Judul Praktikum : Pengaruh Unsur-unsur Ekologi Terhadap Pertumbuhan Bakteri
Nama / NIM         : Dian Octarina / 08081004023   Kelompok       : VIII
Asisten                  : Farhan S                                    Tanggal          : 25 November 2009


                                                                                                                                                                  I.      TUJUAN
Tujuan praktikum ini adalah :
Untuk mengetahui pengaruh factor-faktor ekologi terhadap pertumbuhan bakteri.


                                                                                                                                           II.      LANDASAN TEORI
Setiap maklum hidup keselamatannya sangat tergantung pada keadaan sekitarnya, terlebih-lebih mikroorganisme. Makhluk-makhluk mikroorganisme kokus ini tidak dapat menguasai faktor-faktor luar sepenuhnya sehingga hidupnya sama sekali tergantung pada lingkungan sekitar. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri ialah dengan menyesuaikan diri (adaptasi) terhadap pengaruh faktor luar. Penyesuaian diri dapat terjadi secara cepat serta bersifat sementara waktu, akan tetapi dapat pula perubahan itu bersifat permanen, sehingga mempengaruhi bentuk morfologi serta sifat fisiologi yang turun. Kehidupan bakteri tidak hanya dipengaruhi oleh faktor tekstur lingkungan, tapi dapat jiga dipengaruhi oleh hal lain dan juga mempengaruhi lingkungan. Misalnya adalah bakteri thernogenesis membutuhkan panas dalam media pada ia tumbuh. Bakteri dapat pula mengubah pH dari medium tampat ia tumbuh. Perubahan ini disebut perubahan secara kimia. Adapun faktor-faktor lingkungan dapat dibagi atas faktor biotik dan faktor abiotik.                                    Faktor-faktor biotik terdiri atas makhluk-makhluk hidup, sedangkan faktor-faktor abiotik adalah faktor berupa benda-benda mati (Dwidjoseputro 1994).
Aktivitas mikroba dipengaruhi oleh lingkungan. Perubahan yang terjadi dalam lingkungan dapat mengakibatkan perubahan sifat morfologi dan sifat fisiologi mikrobe. Beberapa golongan mikroba sangat tahan terhadap perubahan lingkungan, sehingga cepat dapat menyesuikan diri. Faktor lingkungan penting artinya dalam usaha mengendalikan kegiatan mikroba, baik untuk kepentingan proses ataupun pengendalian. Kegiatan mikroba, baik untuk kepentingan proses ataupun pengendalian. Lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan mikroba, dapat berbentuk lingkungan abiotik (fisik dan kimia), misalnya temperature, kelembapan, tekanan osmosis, pH senyawa toksik, arus listrik, radiasi, tegangan muka, dan tekanan hidrostatik dan mekanik. Sedangkan lingkungan biotik, yaitu asosiasi dan hama (Suriawiria 2005).
Pertumbuhan dan aktivitas mikroba dapat dikendalikan dengan berbagai cara, baik secara fisik, kimia, biologi. Salah satunya pengendalian aktivitas mikroba adalah dengan mengatur faktor-faktor lingkungan yang sangat mempengaruhi terhadap pertumbuhan dan aktivitas mikroba. Perubahan faktor-faktor lingkungan mengakibatkan perubahan beberapa sifat morfologi dan fisiologi bakteri. Namun demikian, ada beberapa jenis mikro yang mampu menyesuaikan diri dengan linngkungan luar. Bagi mikroba yang demikian biasanya mempunyai sifat toleran dan bersifat resiten terhadap lingkungan baru (Soetarto 1995).
Dalam memilih bahan anti microbial kimiawi ada faktor-faktor yang harus kita perhatikan, yang meliputi sifat bahan yang diberi perlakuan harus serasi dengan bahan yang akan dikenal, tipe mikroorganisme harus dipilih yang telah diketahui efektifnya. Keadaan lingkungan yang meliputi pH, waktu, konsentrasi dan adanya bahan organik, kelompok utama bahan anti microbial kimiawi adalah fenol dan persenyawaan fenolat, alkohol, senyawa-senyawa halogen, detergen dan beberapa macm logam berat dan persenyawaannya. Unsure aldehide, suldanomidem antibiotic, zat warna serta kemosterilisator gas (Schelegel 1994).
Temperatur merupakan salah satu faktor yang penting di dalam kehidupan. Beberapa jenis mikroba dapat hidup pada daerah dengan temperatur luas sedang jenis lainnya. Pada umumnya batas daerah temperature bagi kehidupan microbe terletak antara 0ºC - 50ºC, dan kita kenal ada temperature, minimum, optimum, dan maksimum. Temperatur minimum adalah nilai paling rendah di mana kegiatan microbe dapat berlangsung. Temperatur maksimum adalah temperatur tertinggi yang masih dapat dipergunakan untuk aktivitas mikroba, tetapi pada tingkatan kegiatan fisiologi yang paling minimal, sedangkan tempertur yang paling baik bagi kehidupan dinamakan temperatur optimum (Anonim).
Berdasarkan pada perbedaan jangka suhu pertumbuhan inilah bakteri dapat diklasifikasi dalam tiga golongan menurut sifat-sifat terhadap suhu. Golongan mesofil, golongan psikrofil, dan golongan termofil. Faktor-faktornya juga terdiri dari bahan bentuk gas, jenis dan konsentrasi gas dalam lingkungan sangat mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme selain jenis-jenis gas yang telah dibicarakan. Tekanan osmosis, peristiwa terjadinya palsmolisis dan plasmoptisis disebabkan karena sel berada dalam lingkungan dengan tekanan osmosis lebih tinggi atau lebih rendah dari tekanan pada dalam sel (isi sel). Pengeringan, keadaan ekstrem dingin, efek ion, efek radiasi terdiri dari inframerah, bila diserap oleh benda yang tidak memantulkannya, energy yang relative rendah di keluarkan sebagai panas, sinar-X, dan sinar matahari (Irianto 2004).
Kondisi lingkungan yang mendukung dapat memacu pertumbuhan dan reproduksi bakteri.                             Faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan reproduksi bakteri adalah suhu, kelembapan, dan cahaya. Berdasarkan kisaran suhu aktivitasnya, bakteri dibagi menjadi 3 golongan, yaitu :
1.      Bakteri psikrofil, yaitu bakteri yang hidup pada daerah suhu antara 0°– 30°C, dengan suhu optimum 15°C.
2.      Bakteri mesofil, yaitu bakteri yang hidup di daerah suhu antara 15° – 55°C, dengan suhu optimum 25° – 40°C.
3.      Bakteri termofil, yaitu bakteri yang dapat hidup di daerah suhu tinggi antara               40° – 75°C, dengan suhu optimum 50 - 65°C
Pada umumnya bakteri memerlukan kelembapan yang cukup tinggi, kira-kira 85%. Pengurangan kadar air dari protoplasma menyebabkan kegiatan metabolisme terhenti, misalnya pada proses pembekuan dan pengeringan. Cahaya sangat berpengaruh pada proses pertumbuhan bakteri. Umumnya cahaya merusak sel mikroorganisme yang tidak berklorofil. Sinar ultraviolet dapat menyebabkan terjadinya ionisasi komponen sel yang berakibat menghambat pertumbuhan atau menyebabkan kematian. Pengaruh cahaya terhadap bakteri dapat digunakan sebagai dasar sterilisasi atau pengawetan bahan makanan. Jika keadaan lingkungan tidak menguntungkan seperti suhu tinggi, kekeringan atau zat-zat kimia tertentu, beberapa spesies dari Bacillus yang aerob dan beberapa spesies dari Clostridium yang anaerob dapat mempertahankan diri dengan spora. Spora tersebut dibentuk dalam sel yang disebut endospora. Endospora dibentuk oleh penggumpalan protoplasma yang sedikit sekali mengandung air. Oleh karena itu endospora lebih tahan terhadap keadaan lingkungan yang tidak menguntungkan dibandingkan dengan bakteri aktif. Apabila keadaan lingkungan membaik kembali, endospora dapat tumbuh menjadi satu sel bakteri biasa. Letak endospora di tengah-tengah sel bakteri atau pada salah satu ujungnya (Anonim).




















                                                                                                                                                  III.      CARA KERJA
1.      Pengaruh daya oligodinamik logam berat terhadap pertumbuhan bakteri
Disterilkan uang logam dengan menyemprotkan alkohol
dan kemudian dibakar dengan nyala Bunsen



Diletakkan uang logam yangs teril di bagian tengah
cawan petri



Dimasukkan suspense masing-masing bakteri
(Eschericia coli dan Staphylococus aureus

2.      Pengaruh temperature terhadap pertumbuhan bakteri
Diinkubasi Eschericia coli ke medium NA miring



Tabung I di inkubasi dalam incubator pada suhu 37ºC
Tabung II dimasukkan dalam lemari pendingin









                                                                                                                                  IV.      HASIL PENGAMATAN
1.      
Pengaruh daya oligodinamik logam berat terhadap pertumbuhan bakteri




 Staphylococus aureus                                                Eschericia coli
Diameter Uang Logam     = 2,8 cm                      Diameter Uang Logam       = 2,8 cm
Zona Bening         = 3,5 cm – 2,8 cm                   Zona Bening         =  4,5 cm – 2,8 cm
                              = 0,7 cm                                                                = 1,7 cm

2.      Pengaruh temperature terhadap pertumbuhan bakteri








E. coli 37ºC                                E. coli 4ºC
                                                                                                                                                   V.      PEMBAHASAN
Pada praktikum pengaruh unsure-unsur ekologi terhadap pertumbuhan bakteri, dilakukan pengamatan terhadap faktor unsure ekologi seperti temperature dan daya oligodinamika. Pada pengaruh suhu ini digunakan dengan membandingkan bakteri E. coli dengan temperatur yang berbeda pada inkubator dan pada lemari es. Dari perbedaan suhu pada kedua tempat, mnghasilkan perbedaan, yakni pada inkubator diperoleh hasil yang tampak lebih rata dibandingkan dengan yang diletakkan pada lemari es. Hal ini sesuai dengan pendapat Irianto (2006) bahwa suhu merupakan faktor terpenting dalam memperngaruhi pertumbuhan mikroorganisme. Pada suhu yang lebih rendah umumnya akan memperlambat proses metebolisme seluler, sedangkan suhu yang lebih tinggi mampu meningkatkan taraf kegiatan pada sel.
Pengaruh daya oligodinamika logam berat terhadap pertumbuhan bakteri, pada cawan nampak zona bening yang terdapat mengelilingi disekitar uang logam. Zona bening pada E. coli tampak lebih bening dibandingkan pada bakteri S. aureus.  Hal ini sesuai dengan pendapat Anonim bahwa Zona bening pada oligodinamika logam berat terhadap pertumbuhan bakteri tersebut dibentuk oleh karena adanya ion-ion logam berat dari uang logam pada kadar yang sangat rendah, yang bersifat toksis terhadap mikrobia. Ion-ion tersebut dapat bereaksi dengan sel dalam memenuhi persyaratan statistika. Zona bening adalah zona di mana tidak ditumbuhi bakteri atau mikroorganisme.
Pertumbuhan bakteri merupakan pertambahan biomassa pada bakteri tersebut. Dalam pertumbuhannya, bakteri dipengaruhi beberapa faktor yang mampu merangsang atau mempercepat dan dapat pula menghambat pertumbuhan bakteri tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Dwidjosepoetro (1994) bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri adalah faktor abiotik dan faktor biotik. Faktor abiotik terdiri atas temperature, pH, tekanan osmose, kelembapan, sinar gelombang pendek, tegangan muka, dan daya oligodinamika. Sedangkan faktor biotik adalah simbiose, sinergisme, dan juga antibiosa.
Pada logam berat, terdapat konsentrasi, di mana bila logam berat yang memiliki konsentrasi rendah, mampu menghambat bahkan mematikan pertumbuhan bakteri. Hal ini sesuai dengan pendapat Lay (1994 ) bahwa beberapa logam berat pada konsentrasi rendah memiliki kemampuan untuk mematikan bakteri. Kemampuan ini disebut dengan daya oligodinamik. Peningkatan logam berat oleh sel bakteri disebabkan karena afinitas protein yang tinggi. Pengaruh akumulasi ion logam berat terdapat juga menyebabkan kematian sel bakteri.

                                                                                                                                                  VI.      KESIMPULAN
Dari praktikum yang telah dilaksanakan diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
1.      Pertumbuhan bakteri dipengaruhi oleh faktor abiotik dan faktor biotic.
2.      Logam berat memiliki konsentrasi yang rendah dan mampu untuk mematikan bakteri.
3.      Zona bening pada bakteri E. coli lebih bening daripada bakteri S. aureus di sekeliling uang logam.
4.      Zona bening terbentuk karena adanya pengaruh dari ion-ion logam.
5.      Temperatur yang mempengaruhi pertumbuhan terdiri dari temperatur minimum, temperatur maksimum dan temperatur optimum.



Morfologi Jamur Benang

Diposting oleh Ѽ. PooR pRinZa aPpLe .Ѽ di 09.18.00 0 komentar

LEMBAR HASIL KERJA
PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI

Judul Praktikum    : Morfologi Jamur Benang               
Nama/Nim               : Dian Octarina                            Kelompok    : VIII
Asisten                     : Farhan Syahdi                          Tanggal       : 4 November  2009

                                                                                                                                     I.            TUJUAN PRAKTIKUM
Tujuan Praktikum ini adalah :
            Melakukan pengamatan terhadap morfologi jamur benang yang sekaligus membuat preparat jamur benang

                                                                                                                                        II.            LANDASAN TEORI
Setiap orang dapat melakukan suatu klasifikasi dengan menggunakan                                                                                   perbedaan-perbedaan atau criteria berdasarkan morfologi dan fisiologinya, baik jamur yang bersahaja maupun jamur yang tingkat tinggi dimana tubuhnya memiliki cirri-ciri yang khas yaitu yaitu berupa benang-benang tunggal yang disebut dengan hifa. Kumpulan benang-benang yang padat yang tumbuh menjadi satu kesatuan disebut dengan nama miselium. Hanya golongan ragi yang merupakan kelompok dari kelompok dari mikroorganisme uniseluler ataupun bersel tunggal dan jamur tidak mempunyai klorofil sehingga hidupnya terpaksa heterotrof. Sifat ini menguatkan pendapa, bahwa jamur itu merupakan kelanjutan dari bakteri di dalam evolusi. Golongan jamur mencakup lebih dari 55. 000 spesies yang mana jumlah ini jauh melebihi spesies bakteri . Tentang klasifikasinya belum ada kesatuan pendapat yang menyeluruh diantara para sarjana taksonomi. Bakteri dan jamur merupakan golongan tumbuh-tumbuhan yang tubuhnya tidak mempunyai diferensiasi ataupun perkembangan lebih lanjut dari bagian tubuhnya (Dwidjoseputro 1981).
Tubuh ataupun talus suatu kapang pada dasarnya terdiri dari dua bagian yaitu miselim dan spora ( sel resistensi, istirahat ataupun sering disebut dengan menggunakan dormansi yang dominan). Miselium merupakan kumpulan beberapa filament yang dinamakan dengan hifa. Setiap hifa lebarnya sama sampai 10 mikrometerdibandingkan dengan sel bakteri yang biasanya bersel satu dan memiliki diameternya kurang lebih 1 mikrometer. Disepanjang setiap hifa terdapat sitoplasma bersama. Ada tiga macam  morfologi hifa, yaitu aseptat atau yang lebih dikenal dengan nama hifa senositik yang merupakan hifa yang tidak memiliki dinding sekat yang membatasi antara satu sel dengan sel yang lain, dimana hifa jenis ini atau senositik ini hanya memilki satu nukleus ataupun nukleus tunggal di dalam nya. Sedangkan untuk hifa yang kedua yaitu hifa septet dengan sel-sel uni nukleat yang merupakan jenis hifa yang memilki sekat antar sel, sehingga dengan muda bisa dibedakan batas antar sel dari khamir itu sendiri. Pada jenis hifa septat ini hanya terdapat satu nukleus dalam satu sekat sehinggga memilki banyak kandungan sitoplasma di dalamnya. Nukleus ini terletak ppada bagian tengah dari hifa. Sedangkan untuk jenis hifa septet dengan sel-sel multi nuklleat, mengandung banyak nukleus dalam satu sekat. Dimana nukleus akan terletak pada bagian tengah maupun sekitar dari sitoplasma pada bagian dalam sekat (Pelczar 2008).
Miselium dapat bertindak sebagai sel vegetative atau somatic ataupun juga dapat bertindak sebagai organ sel reproduktif. Beberapa hifa dalam medium ataupun sel somatic menembus  ke dalam medium untuk memperoleh nutrisi ataupun zat makanan. Sedangkan untuk miselium reproduksi bertanggung jawab atas pembentukkan spora dan biasanya tumbuh meluas kea rah udara dari medium. Misselium suatu kapang dapat merupakan suatu jaringan atau struktur padat yang terorganisasi. Bagian terbesar dari suatu kapang secara potensial mampu untuk tumbuh dan berkembang biak. Inokulasi fragmen yang kecil, sekali dalam medium sudah cukup untuk menghasilkan ataupun memulai individu baru yang akan meneruskan generasi dari generasi sebelumnya pada khamir. Hal tersebut diperoleh dari penanaman  atau menambahkan inokulum pada medium yang segar dengan susunan ataupun bantuan dari jarum transfer, suatu cara yang serupa dengan yang digunakan dengan menggunakan bakteri. Dengan kata lain penanaman ataupun penambahan inokulum pada medium yang segar dengan bantuan jarum transfer pada sel khamir menyerupai hal yang dilakukan pada sel bakteri (Pelczar 2008).
Mikroba dan mikroorganisme dapat mengkontaminasi makanan yang kita konsumsi    sehari-hari. Makanan yang telah dihinggapi mikroorganisme seperti fungi itu akan mengalami penguraian sehingga dapat berkurang nilai rasa dan gizinya, bahkan makanan yang telah terurai tersebut dapat menyebabkan penyakit keracunan karenan makanan juga dapat disebabkan oleh kontaminasi yang dilakukan oleh mikroba ataupun mikroorganisme yang pathogen yang dengan mudahnya dapat mengkontaminasi atau berkembang biak pada makanan yang dikonsumsi                sehari-hari sehingga dapat menyebabkan makanan tersebut menjadi rusak ataupun basi dan tidak baik bagi kesehatan yang akan menimbulkan berbagai penyakit. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan microbial pada makanan yaitu kelembaban dan kandungan air ataupun temperature dan pH juga memiliki peranan yang yang penting dalam pertumbuhan mikroba, begitu juga dengan ketersedian oksigen bagi jenis bakteri aerob, kondisi fisik makanan dan unsure-unsur kimiawi yang terdapat dalam makanan tersebut (Lay 1994).
Jamur berbiak secara vegetative dan generative dengan berbagai macam spora. Kata ragi sering dipakai untuk menyebutkan adonan atau ramuan yang digunakan dalam pembuatan berbagai makanan dan berbagai minuman seperti tempe, oncom, roti anggur, bir, brem dan lain sebagainya. Ragi untuk tempe  terdiri atas berbagai spesies dari genus Rhizopus dan mucor ; kedua golongan ini masuk ke dalam genus ataupun golongan Phycomycetes. Ragi untuk oncom terdiri terutama atas Neutrospora sitophila, yang berasal dari golongan Ascomycetes. Jamur oncom yang hanya berbiak secara vegetative terkenal sebagai Monilla sithophila. Ragi untuk tape merupakan populasi campuran, dimana genus terdapat spesies-spesies genus aspergillut, Saccaromyces, genus Candida, genus Hansenula, sedangkan untuk bakteri Acetobacter biasanya juga tidak ketinggalan. Genus-genus tersebut hidup bersama secara sinergetik; Aspergillus dapat meneyderhanakan amilum, sedangkan Saccaromyces, Candida dan hansenula yang dapat menguraikan gula menjadi alcohol dan bermacam-macam zat organic lainnya. Acetobacter menumpang untuk mengubah alcohol menjadi asam cuka. Ragi atau khamir digunakan untuk membuat roti dan minuman keras yang lebih murni populasinya, dan ragi itu terutama terdiri dari Saccaromyces cerevisiae, meskipun spesies-spesies lain mungkin juga ditemukan disitu atau pada roti dan minuman keras tersebut (Dwidjoseputro 1982).
Mucor membiak dengan dua jalan, yaitu dengan menggunakan spora yang hanya semacam saja  dan spora-spora yang berlainan jenis . spora-spora yang sama jenisnya itu dihasilkan oleh sporangium yang tumbuh pada ujung hifa. Mula-mula ujung suatu hifa mengelembung, kemudian protoplas yang ada pada gelembung itu membelah-belah diri menjadi suatu spora. Jika spora-spora dewasa itu telah dewasa, maka pecahlah sporangium sehingga spora-spora tersebut bertebaran kemana-mana. Pembiakan secara generative dilakukan dengan bersatunya tonjolan pada hifa yang berlainan “muatan”, untuk gampngnya biasa ditambahkan dengan menmberikan tanta positif (+) dan tanda negative (-). Kedua ujung hifa yang bersatu itu merupakan suatu Zygozpora; Zygospora dapat terlepas dari miselium serta dilain tempat dapat tumbuh dan menghasilkan sporangium. Sporangium ini akan membentuk dua macam spora yaitu spora + dan spora negative sehingga kemudian masing-masing menghasilkan miselium + dan miselium – pula. Kadang-kadang berbentuk pula spora  (Dwidjoseputro 1981).
Rhizopus; beberapa spesies hidup sebagai safrofit dan beberapa yang lainnya hidup sebagai parasit pada tumbuh-tumbuhan. Rhizopus nigricans yang dapat ditemukan dimana-mana, yang mana semula miseliumnya tampak seperti kelompok kapas, lama kelamaan koloni menjadi berwarna kehitam-hitanaman karena banyaknya sporangium dan spora.
Rhizopus itu banyak menyerupai mucor, hanya miselium Rhizopus terbagi-bagi atas stolon, yang menghasilkan alat-alat serupa akar (rhizoida) dan sporangiofor. Di Indonesia, Rhizopus oryzae merupakan ragi untuk membuat tempe. Spesies ini dapat mengubah amilum menjadi dekstrosa, dapat memecah protein dan lemak yang ada di dalam sel-sel kedelai dan kacang. Dengan demikian maka tempe itu seakan-akan lebih bersediah untuk dicernakan oleh perut kita.
Pembicaraan mengenai Ascomycotes, Jamur ini mempunyai miselium yang bersekat-sekat. Pembiakan secara vegetatif dilakukan dengan konidia, sedang pembiakan secara generatif dilakukan dengan spora-spora yang dibentuk di dalam askus. Beberapa askus itu suatu ujung hifa, yang mengandung 4 atau 8 buah spora. Contoh-contoh Ascomycetes yang terkenal ialah :
Aspergillus. Jamur ini kedapatan di mana-mana sebagai saprofit. Koloni yang suudah menghasilkan spora warnanya menjadi coklat kehijau-hijauan atau kehitam-hitaman; miselium yang semula berwarna putih sudah tidak tampak lagi. Makanan kita yang kita biarkan terbuka mudah sekali dihinggapi Aspergillus  ini. Aspeergillus fumigates menyebabkan penyakit paru-paru pada hewan dan kadang-kadang juga pada manusia.
Penicillium. Jamur ini serupa dengan Aspergillus. Hanya dengan pengamatan mikroskop akan kelihatan perbedaannya, dan perbedaan itu terletak dalam susunan konidia-nya. Spesies yang terkenal ialah penicillium notatum, penicillium chrysogenum, karena keduanya menghasilkan zat anitiibiatik penisilin. Penicillium roqueforti dan penicillium camemberti adalah spesies yang digunakan dalam pembuatan keju.


                                                                                                                                               III.            CARA KERJA
1.        Morfologi Jamur

Dibersihkan kaca objek dan kaca penutup dengan menggunakan Alkohol

Kemudian dilewatkan di atas Bunsen

Diambil larutan Laktofenol (1 tetes) dan diletakkan diatas kaca objek

Diambil sedikit misselium dari jamur dengan menggunakan jarum ose

Kemudian diletakkan di atas Laktofenol

Ditutup dengan menggunakan kaca penutup

Diamati di bawah mikroskop





                                                                                                                               IV.            HASIL PENGAMATAN

1.        Morfologi Jamur

Genus
Deskripsi koloni
Pengamatan mikroskopis
Saccaromyces
Memiliki bentuk sel yang tunggal. Jamur ini tidak memiliki klorofil, sehingga hidupnya lebih heterotrof, bentuk tubuh ada yang uniselluler dan ada yang multiseluler dalam divisi Ascomycotina. Kelompok genus ini dapat menguraikan gula menjadi bermacam-macam zat organic, salah satunya yaitu alcohol, yang memiliki perkembangbiakan secara vegetative dan konjugasi.

Monilia
Termasuk ke dalam golongan Deutromycotina, yang berkembang biak hanya menggunakan sel vegetatif saja yang menghasilkan spora.

Rhizopus
Beberapa spesies hidup sebagai saprofit dan ada bentuk spesies yang lain berbentuk parasit pada tumbuh-tumbuhan. Rhizopus banyak yang menyerupai mucor, hanya saja misellium Rhizopus yang terbagi –bagi atas stolon yang menghasilkan alat serupa akar. Pada sebagian Rhizopus juga kedapatan dimana-mana. Semula misseliumnya tampak seperti sekelompok kappa, yang mana lama kelamaan koloni akan berubah warna menjadi kehitam-hitaman karena banyaknya mengandung sporangium dan spora.

                                                                                                                                             

                                                                                                                                                  V.         PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini praktikan akan berhadapan langsung dengan fungi karena menggunakan bahan yang tergolong ke dalam khamir yang dianggap sebagai objek yang akan dimati, dimana fungi ataupun khamir yang akan diamati merupakan khamir oncom yang sering disebut dalam sunia biologi Monilia sp, selanjutnya Rhizopus oryzae yang sering disebut dengan Jamur tempe, dan yang ketiga yaitu Saccaromyces cerevisei yang sering disebut dengan jamur roti. Morfologi maupun anatomi pada masing-masing jenis fungi tersebut berbeda-beda sehingga kita sebagai praktikan terlebih dahulu harus paham mengenai cirri-ciri ataupun karakteristik dari fungi itu sendiri ataupun setiap khamir khususnya jenis khamir yang masuk dalam objek praktikum yang akan diamati. Hal ini sesuai dengan pendapat Dwidjoseputro (1981) bahwa baik jamur yang bersahaja maupun jamur tingkat tinggi tubuhnya memilki cirri-ciri yang khas, yaitu berupa                benang-benang tunggal yang disebut dengan nama  misselium atau kumpulan benang padat menjadi satu. Hanya golongan ragi itu yang tubuhnya yang berupa sel-sel tunggal. Cirri ataupun karakteristik yang kedua yaitu pada fungi tidak memilki klorofil sehingga memaksa fungi untuk hidup sebagai organism yang heterotrof.
Kelompok enam mendapatkan kesempatan untuk mengamati jamur oncom ataupun yang sering disebut dengan nama monilia sp, atau lebih lengkapnya lagi dinamakan dengan  monilia sitophila. Pada monilia sitophila yang diamati berupa filament. Filament ini berwarna coklat kekuningan , dimana pada bagian yang berbentuk bulat banyak mengandung spora ataupun sporangium (kotak atau kantong spora) yang ditandai dengan dengan bentuk dari bintik-bintik kecil yang menumpuk ataupun mengumpul. Hal ini sesuai dengan pendapat Dwidjoseputro (1981) bahwa pada beberapa spesies dari Monilia merupakan jenis jamur yang memilki sekat dengan pembiakan yang secara vegetative dilakukan dengan konidia pada umumnya, sedangkan untuk pembiakan secara generative dilakukan dengan spora-spora yang dibentuk di dalam askus. Beberapa askus terdapat dalam suatu tubuh buah, pada umumnya askus itu suatu ujung hifa yang mengandung 4 sanpai 8 buah spora.  Pada beberapa jenis dari genus ini hidup sebagai saprofit yang dapat meguraikan sisa-sisa tumbuhan ataupun hewan yang telah mati akan tetapi sebagian besar lainnya dapat hidup sebagi parasit pada tubuh inangnya.
Selain mengamati jenis Monilia, diambil juga sampel dari jamur tempe dan jamur roti yaitu Rhizopus dan Saccaromyces yang juga diambil hifa atau misseliumnya untuk diamati struktur dan morfologinya. Untuk jamur ataupun fungi jenis Rhizopus dapat hidu sebagai saprofit yang dapat membantu menyuburkan tanah dan juga dapat hidup sebagai parasit yang nerugikan inangnya. Sedangkan untuk Saccaromyces dapat digunakan sebagai prekusor dalam biidang industry. Hal ini sesuai dengan pendapat Dwidjoseputro (1981) bahwa jenis dari jamur Rhizopus  menyerupai genus dari Mucor. Ragi jenis ini digunakan dalam pembuatan tempe, gunus ini termasuk golongan dari Phycomycetes. Jenis ini juga bisa ditemukan dimana-mana, yang mana sebelumnya  (semula) miseliumnya tampak seperti sekelompok kapas, yang mana lama kelamaan  koloni akan berubah warna menjadi kehitam hitaman karena banyaknya sporangium dan spora.
Pada umumnya sel khamir lebih besar dari pada kebanyakkan bakteri, akan tetapi khamir yang paling kecil tidak sebesar dengan bakteri yang terbesar. Khamir memilki ukuran yang sangat beragam secara morfologinya. Besarnya tubuh khamir bberbentuk seperti ataupun mnyerupai telur, akan tetapi beberapa ada yang memanjang dan berbentuk bola. Hal ini sesuai dengan pendapat Pelczar (2008 : 191) bahwa setiap spesiesmempunyai bentuk yang khas. Namun sekalipun dalam biakan murni terdapat variasa yang luas dalam hal ukuran dan bentuk-bentuk dari sel-sel individu,  yang tergantung pada umur dan lingkungannya. Khamir tidak dilengkapi dengan flagellum pada organ kuarnya dan organ-organ penggerak lainnya.
Pada praktikum kali ini juga ditemukan juga spora yang merupakan alat perkembangbiakan pada jamur, dimana spora ini ditandai dengan terlihatnya bintik-bintik atau titik-titik pada permukaan tubuh dari fungi. Spora pada jamur berbeda dengan spora pada bakteri, dimana spora paad jamur berfungsi sebagai alat perkembangbiakan sedangkan spora pada bakteri berfungsi sebagai alat pertahanan diri terhadap resistensi atau terhadap lingkungan sekeliling yang kurang menguntungkan. Menurut Dwidjoseputro (1981) bahwa jamur berbiak secara vegetative maupun secara generative dengan menggunakan berbagai macam spora. Macam spora yang terjadi dengan tiada perkawinan ialah spora yang biasa, yaitu konidiospora, klamidospora, dan artrospora. Kebanyakkan spesies jamur dapat berkembang biak secara vegetative maupun berbiak secara generative, dimana perkembangbiakan secara vegetative tersebut tanpa menggunakan alat gamet baik jantan maupun betina.
Pada tubuh khamir mengandung hifa ataupunfilamen-filamen yang berbentuk benang. Disepanjang hifa banyak terdapat inti sel yang berarti banyak juga sitoplasma yang tergabung di dalamnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Pelczar (2008) bahwa tubuh ataupun talus dari fungi filament terdiri dari hifa dan misselim. Ada tiga macam morfologi pada hifa yaitu hifa septat pada sel-sel yang tunggal, hifa senositik, dan hifa septat untuk sl-sel yang banyak ataupun multiseluler. Hifa septat yang merupakan hifa yang memilki ruang ataupun sekat antara sel yang berisi ataupun beberapa nukleus  dan yang kedua hifa senositik yang merupakan  hifa yang tidak mempunyai dinding sekat atupun ruang-ruang antar selnya yang tidak bisa dibatasi oleh selat.









                                                                                                                                                VI.            KESIMPULAN
Dari praktikum yang telah dilaksanakan diperoleh kesimpulang sebagai berikut :
1.      Rhizopus dan Monilia merupakan jenis jamur yang memilki bentuk miselliumnya berwarna coklat kehitam-hitaman
2.      Tersebar banyak spora yang mengumpul pada suatu tempat (sporangium).
3.      Monilia sp, memiliki filament-filamen yang akan membenuk misselim.
4.      Monilia sp dapat hidup sebagai saprofit dan dapat ditemukan dimana-mana atau lebih dikenal dengan cosmopolitan
5.      Walaupun berbentuk filamen-filamen, khamir memilki bentuk yang beragam dan ukurannyapun juga beragam.



pRinZa Facebook

 

PooR pRinZa aPpLe Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei | web hosting